2009-06-30

Laut Sawu Masuk Kawasan Segitiga Emas Karang


Kupang (ANTARA News) - Perairan Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
masuk dalam kawasan segitiga emas karang dunia (the coral triangle) yang memiliki keanekaragaman hayati dan terumbu karang yang tersebar luas berikut berbagai spesies yang hidup.

Perairan itu juga sebagai perlintasan bagi 14 jenis ikan paus dan habitat bagi lumba-lumba, duyung, ikan pari manta, penyu serta merupakan jalur utama pelayanan nasional.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan NTT, Ir. Ana Salean, di Kupang Senin mengatakan, sebagai the coral triangle, Laut Sawu menyimpan lebih dari 65 persen potensi lestari sumber daya ikan, namun juga menyimpan persoalan seperti perusakan karang.

Menurut Ana Salean, praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dengan menggunakan racun, pemboman ikan, eksploitasi pasir dan karang di kawasan pesisir mengakibatkan lingkungan rusak.

Taman Nasional Perairan Laut Sawu meliputi kawasan seluas 3,5 juta hektar yang dibagi atas dua zona, wilayah Selat Sumba dan sekitarnya seluas 567.165,64 hektar dan wilayah Pulau Sabu, Rote, Timor dan Batek seluas lebih 2,9 juta hektar.

Sementara Pemerintah Kabupaten Alor, pada Maret lalu juga telah menetapkan kawasan konservasi perarian daerah seluas 400.000 hektar menjadi jejaring kawasan sehingga total areal konservasi di Laut Sawu menjadi 3,9 juta hektar lebih.

Direktur Konservasi dan Taman Laut Dirjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Perikanan dan Kelautan, Agus Dermawan, mengatakan, Laut Sawu bisa dijadikan basis daerah penangkapan ikan dengan tetap mendorong perlindungan keanekaragaman hayati.

Kawasan ini, dikelola sebagai bank penyedia telur dan larva ikan, tempat pembaruan dan penambahan stok ikan di wilayah konservasi.

Keberadaan Taman Nasional Perairan Laut Sawu sangat penting bagi dunia karena menjadi kawasan konservasi terluas di segitiga emas gugusan karang dunia, tempat di mana beraneka-ragam biota laut hidup dan berkembang.

Laut Sawu sebagai jalur pelayaran nasional, para pemangku kepentingan yang tengah mengikuti workshop soal Laut Sawu akan berperan untuk meningkatkan kesadaran pengguna jalur itu untuk tidak membuang sampah sembarangan.(*)


Sumber: ANTARA News (Senin, 29 Juni 2009 13:03 WIB)

GAJAH SERING MASUK KAMPUNG_Warga Balai Makam Dicekam Ketakutan

PEKANBARU (RiauInfo) - Warga Balai Makam, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis saat ini dicekam ketakutan. Sejak gajah liar sering masuk ke perkampungan dan merusak rumah, warga tidak bisa nyaman tidur, karena takut pemukimannya akan kembali dimasuki gajah.

Beberapa hari lalu kawanan gajah liar sempat masuk ke memukiman warga, bahkan merusak dapur rumah salah seirang warga. Akibatnya penghuni rumah terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman malam itu juga guna menjaga keselamatannya.

Ketua Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Desa Balai Makam, Rahmat Yusuf mengatakan selain merupkan bagian dapur rumah warga, gajah juga merusak lahan pertanian warga. Mereka masuk ke pemukiman warga dalam jumlah mencapai belasan ekor.

Saat ini, menurut dia, masyarakat Balai Makam benar-benar ketakutan, mereka tidak bisa tidur nyenyak setap malam. "Meskipun gajah-gajah itu telah berhasil kami usir, namun kemungkinan datang kembali ke pemukiman warga masih cukup besar," tambahnya.(ad)


Sumber: RiauInfo (28 Jun 2009 20:33 wib)

Jangan Sampai Bambu Punah!

SHUTTERSTOCK

Diperkirakan sekitar 15 tahun hingga 20 tahu ke deapan orang Indonesia tidak akan melihat lagi pohon bambu akibat akibat eksplorasi besar-besaran tanpa disertai budidaya. Kenyataan ini, jika dibiarkan akan berpangaruh terhadap keseimbangan lingkungan.

Penelitu Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Elizabeth A. Widjaja, mengatakan itu kepada wartawan di Bandung, Sabtu (27/6). Menurutnya, pemerintah Indonesia hingga kini belum menunjukkan kepeduliannya.

"Buktinya, hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman yang dilindungi," kata Elizabeth seusai bicara dalam Seminar sehari Bambu untuk Kehidupan Modern (Bamboo for Modern Life) di Saung Angklung Udjo Bandung itu.

Untuk melindungi pohon bambu dari kepunahan, menurut Elizabeth, salah satunya tidak mengeksplorasi secara besar-besaran dan ada upaya pengendalian atau kuota dalam mengeksplorasinya. "Selain itu, juga harus ada upaya budidaya, sehingga habitatnya tetap seimbang," kata Elizabeth, seraya menambahkan pohon ini sangat baik untuk konservasi air.

Selain upaya tersebut, lanjut perempuan yang selama 33 tahun hingga sekarang eksis dalam penelitian bambu itu, harus ada kemauan pemerintah Indonesia membuat regulasi perlindungan bambu. "Bisa saja pemerintah memasukkan bambu ke dalam jenis tanaman lain yang dilindungi, lengkap dengan sanksi, sebagaimana regulasi lainnya," katanya.

Ancaman lain terhadap kepunahan bambu, sebagai pohon penahan erosi tersebut karena semakin sempitnya lahan kebun bambu akibat berubah fungsi, antara lain jadi perumahan atau industri.

Ia menyebutkan, di Indonesia terdapat 160 jenis bambu, dan 88 jenis di antaranya, merupakan bambu endmik atau jenis bambu khas yang terdapat di suatu daerah.

Semua jenis bambu itu memiliki barbagai nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. "Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan setiap ada rumpun bambu di sana sudah pasti ada sumber air," katanya.


Sumber : Antara

Habitat Owa Jawa Terancam

www.cites.org
Owa Jawa (Hylobates moloch)

Habitat owa jawa (Hylobates moloch) atau kera berbulu abu-abu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) terancam akibat perusakan hutan oleh manusia.

Kepala Seksi Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak Nurly Edlinar, Jumat (26/6), mengatakan, habitat owa jawa di TNGHS sudah mengalami degradasi sehingga mereka terancam kehilangan mata rantai makanan.

Makanan primata itu adalah dedaunan, buah-buahan, dan terkadang makan serangga sebagai tambahan protein.

Selama ini, populasi owa jawa merasa terganggu, baik dengan adanya pembukaan lahan, maupun penebangan pohon liar oleh masyarakat sekitar TNGHS.

Berdasarkan laporan, kerusakan hutan di kawasan TNGHS mencapai 24.550 hektar, di antaranya seluas 8.550 hektar dalam kondisi rusak parah dan harus dihijaukan.

"Kerusakan hutan itu tentu berdampak terhadap ekosistem habitat owa jawa," katanya.

Menurut dia, owa jawa dalam mencari makan selalu berpindah-pindah secara berkelompok menjelajah dari satu pohon ke pohon lainnya.

Secara garis besar, kelompok primata itu menggunakan empat pola lokomotor yakni bergantung, berjalan, memanjat, dan melompat.

Hewan itu sering lebih agresif dalam beraktivitas ketika siang hari saat Matahari bersinar terik dan suhu udara panas.

Mereka lebih banyak mendiami hutan dataran rendah yang mempunyai tajuk pohon yang rapat sebagai populasi habitatnya.

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan binatang itu harus dilakukan pengayaan pohon pakan dan pohon tidur.

Pengayaan pohon pakan dan pohon tidur dilakukan di hutan sekunder yang berada dalam kawasan TNGHS dengan cara menanam jenis tumbuhan asli yang biasa digunakan owa jawa.

Owa jawa termasuk binatang primata yang dilindungi dan hanya ditemukan di Pulau Jawa bagian barat, di antaranya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Gunung Pangrango, dan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Sekarang diperkirakan populasi owa jawa terus berkurang karena kerusakan hutan dan perburuan. "Saya berharap masyarakat tidak melakukan penebangan hutan karena banyak ekosistem satwa yang dilindungi," katanya.


Sumber : Antara

Macan Kumbang Teracam Punah

www.jjphoto.dk
Macan Kumbang (Panthera Pardus Melas)

Populasi macan kumbang atau macan hitam (Panthera pardus melas) di Kabupaten Lebak, Banten terancam punah akibat perusakan hutan serta perburuan yang dilakukan manusia.

"Saat ini satwa yang dilindungi itu tinggal beberapa ekor," kata Kepala Seksi Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Nurly Edlinar, Jumat (26/6).

Pihaknya belum lama ini melihat jejak macan kumbang di hutan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) di blok wilayah Kabupaten Lebak.

Namun, berdasarkan jejak satwa tersebut, tampaknya tinggal beberapa ekor yang masih berkeliaran di hutan Gunung Endut di Kabupaten Lebak.

Nurly mengatakan macan kumbang merupakan salah satu subspesies dari macan tutul yang sejak 20 tahun lalu populasinya di Kabupaten Lebak cukup banyak. Kini, pihaknya merasa prihatin dengan menurunnya populasi macan kumbang itu.

Satwa yang memiliki indra penglihatan dan penciuman tajam ini, biasa mencari makan pada malam hari. Macan kumbang memiliki kulit warna hitam mengkilap keunguan dengan bintik-bintik gelap seperti gambar bunga. Warna hitam binatang ini merupakan hasil evolusi dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap.

Macan kumbang betina tubuhnya besar, dengan kemampuan jelajah hingga 40 kilometer. Sedangkan yang jantan tubuhnya lebih kecil, dengan daya jelajah mencapai 27 kilometer. "Diperkirakan saat ini populasi macan kumbang tinggal beberapa ekor," katanya.

Berkurangnya populasi macan kumbang di TNGHS wilayah Kabupaten Lebak akibat perburuan terhadap satwa ini, serta lenyapnya mata rantai makanan akibat perusakan hutan lindung. "Macan kumbang kehilangan binatang buruannya di antaranya menjangan, rusa dan kancil," katanya.

Untuk melindungi satwa tersebut, pihaknya bersama Balai TNGHS memasang pengumuman larangan berburu binatang ini. Saat ini, macan kumbang masuk dalam kategori Appendix I dan satwa yang dilindungi di Indonesia.

"Artinya, jika ketahuan melakukan perburuan terhadap macan kumbang, akan dikenakan sanksi pidana sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Hukumannya maksimal lima tahun penjara," kata Nurly.


Sumber : Antara

Sekdaprov Teken Roadmap Ekosistem

TANDATANGANI ROADMAP: Sekdaprov Riau Drs H Wan Syamsir Yus menandatangani roadmap (peta jalan) penyelamatan ekosistem Pulau Sumatera yang disaksikan Meneg LH Rachmat Witoelar, Menteri Kehutanan MS Kaban, Menteri PU Djoko Kirmanto, di Hotel Borobudur, Jakarta Jumat (26/6/2009). humas spemprov

JAKARTA (RP) - Sekdaprov Riau Drs H Wan Syamsir Yus atas nama Gubernur Riau turut menandatangani roadmap (peta jalan) penyelamatan ekosistem Pulau Sumatera. Roadmap itu dibuat sebagai wujud komitmen gubernur se-Sumatera untuk menyelamatkan lingkungan hidup, khususnya Pulau Sumatera.

Penandatanganan dilakukan di Hotel Borobudur, Jakarta Jumat (26/6), yang disaksikan langsung oleh Meneg LH Rachmat Witoelar, Menteri Kehutanan MS Kaban, Menteri PU Djoko Kirmanto dan Mendagri yang diwakili Dirjen Bangda serta anggota Watimpres Prof Dr Emil Salim. Seluruh gubernur di Sumatera membubuhkan tanda tangannya atas roadmap tersebut, yang diharapkan bisa dijadikan acuan untuk menyelamatkan ekosistem Pulau Sumatera yang sudah terancam hancur.

Emil Salim dalam paparannya mengatakan, bahwa masih ada harapan menyelamatkan ekosistem Pulau Sumatera dari kehancuran. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali semua pihak, terutama para kepala daerah punya komitmen yang tinggi untuk menyelamatkan Pulau Sumatera.

‘’Jangan sampai Pulau Sumatera ini jadi Jawa kedua. Kalau Jawa sudahlah, sudah hancur. Nggak ada lagi hutan, udah nggak karu-karuan. Sumatera masih ada harapan. Mari kita selamatkan. Tapi kalau kita biarkan saja, lihat nanti tahun 2020, Pulau Sumatera mungkin good bye. Hancur,’’ tegas mantan Meneg LH era Soeharto itu.

Bagaimana menyelamatkan ekosistem Pulau Sumatera dari kehancuran, menurut Emil dengan cara mengubah pola pembangunan. Bila selama ini orientasinya hanya bagaimana mengeksploitasi alam untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, ke depan tidak bisa lagi dilakukan seperti itu.

‘’Ke depan pola pembangunannya adalah dengan mengembangkan value added (nilai tambah) dari sumber daya alam itu. Jadi misalnya kalau selama ini kita bisanya hanya menebang kayu untuk cari uang, ke depan tidak lagi begitu, tapi bagaimana dengan teknologi yang ada, kita kembangkan value added-nya, mungkin dari kulit kayu kita ciptakan obat untuk kanker dan lain sebagainya yang keuntungan ekonominya jauh lebih besar tanpa merusak alam,’’ ulas Emil.

Atas dasar itu pula, Emil mendorong seluruh provinsi di Sumatera untuk memberikan prioritas bagi pembangunan pendidikan, agar pendidikan yang ada bisa menghasilkan manusia yang berkualitas.

‘’Karena memang tidak mungkin kita bisa mengembangkan value added dari SDA yang ada tanpa kita mengerti teknologi,’’ urai Emil.(bud/izl)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Sabtu, 27 Juni 2009 , 08:01:00)

Pelaku Perambahan Cagar Biosfer Diselidiki

PEKANBARU (RP) -Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Riau Zulkifli Yusuf menegaskan, perambahan hutan Cagar Biosfer Unesco di kawasan hutan gambut Giam Siak Kecil dan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis sedang dalam penyelidikan pertugas di lapangan.

Tim dari Dishut Riau sedang melakukan pendataan dan mengumpulkan data sebanyak mungkin menindaklanjuti perambahan hutan di Caghar Birosfer ini. Kawasan hutan gambut ini, tambahnya, menurut informasi terancam rusak parah.

Sebelum terjadi kerusakan lebih parah lagi, lanjutnya, Dishut sudah menyurati instansi terkait di lokasi perambahan. ‘’Kita tidak ingin lahan cagar biosfer diperjualbelikan oleh oknum tidak bertanggungjawab,’’ ungkapnya dengan nada tegas kepada Riau Pos, akhir pekan lalu, di Kantor Gubernur Riau.

Dari hasil informasi sementara yang diterima petugas Dishut, perambahan terjadi di Desa Muara Dua, Sadar Jaya, Bandar Jaya, Tanjung Leban, Langkat, Bukit Kerikil, dan Desa Lubuk Gaung. Namun demikian, Dishut sampai sengan saat ini belum memastikan pelaku perambahannya.(new)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Senin, 29 Juni 2009 , 07:30:00)

2009-06-29

Jarak Pandang Berangsur Normal_Gelombang Tinggi di Perairan Rohil


SEPI AKTIVITAS: Kondisi di Perairan Rohil sudah mulai bersih dari pengaruh kabut asap. Hanya saja kabut asap masih berkemungkinan untuk turun menyelimuti perairan ini mengingat sejumlah hotspot baru kembali muncul, terutama di sore hari. Akibatnya, dermaga Pelabuhan Bagansiapi-api agak sepi dari aktvitas.foto: syahri ramlan/riau pos

Laporan SYAHRI RAMLAN, Bagansiapi-api syahriramlan@riaupos.com
SEIRING dengan menipisnya kabut asap, jarak pandang di Perairan Rohil mulai berangsur normal. Namun, angin masih bertiup kencang, dan gelombang tinggi masih muncul mendadak di sejumlah perairan, terutama saat mulai turun hujan.

‘’Hasil pantauan kita di lapangan, kondisinya seperti itu. Kabut asap yang semua terlihat tebal menyelimuti perairan, sekarang sudah terlihat terang. Jarak pandang di Perairan Rohil relatif sudah berangsur normal,’’ kata Danlanal Dumai Letkol Laut (P) Arief Sumartono melalui Danposal TNI Bagansiapi-api Lettu Laut (T) Mufit yang ditemui Riau Pos, Ahad (29/6) di Bagansiapi-api.

Kendati jarak pandang di Rohil sudah mulai terlihat normal, lanjut Mufit, kondisi angin dan gelombang laut masih sulit diprediksi. ‘’Artinya, kadang-kadang angin muncul dengan berkecepatan tinggi dan gelombang lautnya agak tinggi. Kondisi seperti ini, umumnya terjadi saat mau hujan turun. Tapi, kalau tidak hujan, kondisinya juga tenang,’’ kata Mufit.

Kendati hujan sudah mulai turun mengguyur sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Rohil, namun kabut asap masih tetap terlihat terutama di waktu pagi hari. Sedangkan menjelang siang hingga sore, kabut asap relatif sudah berkurang. ‘’Tapi, kalau jelang subuh, kondisinya tetap agak tebal. Namun setelah ada matahari, berangsur cerah,’’ lanjut Mufit.(tie)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Senin, 29 Juni 2009 , 07:26:00)

3.000 Tual Kayu Olahan Ditangkap_Kerahkan 25 Personil Polisi


Laporan Sukri Datasan, Tasik Serai sukridatasan@riaupos.com
Jajaran Polsek Pinggir dikomandoi Kapolsek AKP James Sibarani melancarkan operasi pemberantasan illegal logging Kamis (25/6) lalu di kawasan hutan di Km 43 Desa Tasik Serai. Sebanyak 3.000 kayu ilegal yang diolah menjadi tangkai sapu untuk diekspor disita dalam operasi itu. Juga diamankan empat unit mesin pengolah dari empat kilang yang ditemui di TKP. Tiga warga yang dicurigai terlibat pun kini diperiksa intensif di Mapolsek Pinggir.

Menurut Kapolsek AKP James Sibarani pada Riau Pos Sabtu petang (27/6) tim beranggotakan 25 personil yang dikomandoinya berangkat menuju TKP sekitar jam 06.00 pagi. Sesampai di TKP menaiki pompong sekitar jam 1 0.00, para pekerja di empat kilang yang menjadi sasaran operasi berlarian masuk hutan. “Akses sangat susah karena jalan masuk hanya satu. Meski strategi sudah disusun rapi, para pekerja curiga dan berhasil kabur,” ujar James.

Kendati tak berhasil menangkap para pekerja dari keempat kilang pengolah kayu itu, menurut James timnya berhasil mengamankan tiga warga yang saat operasi berlangsung dipergoki mendatangi bedeng.

“Mereka membawa sinso dan perbekalan. Karena diyakini mereka ada kaitan dengan kegiatan illegal logging tersebut makanya kita amankan untuk dikorek informasi tentang siapa yang mempekerjakan mereka,” ujar James. Tim pemberantasan illegal logging yang dikerahkan Polsek Pinggir terpaksa bekerja keras sehari itu. Apalagi medan yang mereka tempuh di jalur rencana jalan tembus Duri-Pakning itu lumayan menyulitkan. Menurut James, jajarannya baru sampai kembali di Polsek Pinggir dengan barang sitaannya pada Kamis malamnya.(afa)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Minggu, 28 Juni 2009 , 09:45:00)

Warga Tasik Indah Ketakutan_Kawanan Gajah Masuk Kampung


Laporan BUNYAMIN, Pangkalankerinci bunyamin@riaupos.com
Kawanan gajah liar memasuki perkampungan warga di dusun tiga Tasik Indah Desa Segati, Kecamatan Langgam, pada Rabu (24/6) malam lalu. Hal ini membuat warga dusun tersebut ketar-ketir. Pasalnya berdasarkan pengalaman mereka, kedatangan kawanan gajah biasanya menyebabkan kerusakan hebat pada tanaman perkebunan warga. Warga juga khawatir berulangnya pristiwa mengerikan berapa tahun lalu,yang mana amukan gajah merenggut satu nyawa warga.

Menurut penuturan warga setempat kepada wartawan di Pangkalankerinci, Jumat (26/6), keberadaan gajah-gajah tersebut sudah diketahui warga sejak pukul 17.00 WIB. Namun hewan raksasa itu tidak bergeming sama sekali saat coba digiring kembali masuk hutan. Bahkan kawanan tersebut tetap bertahan di sekitar perkebunan masyarakat sampai petang kemarin.

‘’Gajahnya tidak takut dengan orang, inilah yang membuat kita khawatir. Biasanya kalau sudah dinyalakan api, jenis hewan gajah ini pergi masuk hutan. Tapi yang ini lain betul, maka masyarakat teruslah siang malam berjaga kebun masing-masing,’’ ujar Ujang (30) yang datang ke Pangkalankerinci untuk menemui wartawan. Menurutnya warga sangat berharap pemerintah menurunkan bantuan untuk mengusir kembali gajah-gajah ke tengah hutan.

Dijelaskan juga, kawanan hewan gajah kali ini sempat menunjukkan keganasannya dimuka umum dengan merusak sebuah rumah milik Wahid, tokoh masyarakat setempat. Wargapun beramai-ramai menghalau gajah tersebut kearah hutan. Sayangnya gajah yang sudah mulai takut dengan banyaknya orang itu tidak bisa masuk hutan lantaranterhalang kanal besar. Akibatnya kawanan tersebut tetap bertahan diantara hutan dan perkampungan yang menyebabkan kekhawatiran warga makin besar.

Sampai petang kemarin belum ada bala bantuan dari pemerintah untuk warga Tasik Indah. Menurut salah satu petugas BKDSDA wilayah I, Edwin, pihaknya belum mendapat informasi masuknya kawanan gajah ke wilayah Langgam. ‘’Kita akan cek dulu kebenaran informasi tersebut. Kalau sudah jelas baru kita kesana,’’ ujar Edwin saat dikonfirmasi seorang wartawan.(nto)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Sabtu, 27 Juni 2009 , 08:12:00)

2009-06-28

Gempa 5,1 SR Guncang Ujung Kulon


(Grafis ANTARA)

Bandarlampung (ANTARA News) - Gempa berkekuatan 5,1 Skala Richter (SR) terjadi di 91 Barat Daya Ujung Kulon, Jawa Barat, Rabu (24/6) malam, pukul 23:00:33 WIB.

Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang terpantau dari Bandarlampung, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Lokasi gempa berada dilaut pada 7,25 Lintang Selatan - 104,80 Bujur Timur, dengan kedalaman 30 kilometer.

Pusat gempa berada pada 189 kilometer Barat Daya Kalianda-Lampung, 198 kilometer Barat Daya Merak-Banten, 207 kilometer Barat Daya Tanjungkarang-Bandarlampung, dan 238 kilometer Barat Daya Sukabumi-Jawa Barat. (*)


Sumber: ANTARA News (Kamis, 25 Juni 2009 00:30 WIB)

Menhut : Hutan di Gunungkidul Jadi Percontohan

Gunungkidul (ANTARA News) - Menteri Kehutanan MS Kaban menyatakan, pengembangan hutan rakyat di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi proyek percontohan pengembangan hutan di Indonesia.

"Upaya masyarakat Gunungkidul yang mampu mengelola dan melestarikan keberadaan hutan Gunungkidul, layak menjadi contoh pengelolaan hutan tanaman rakyat di Indonesia," kata MS Kaban dalam pertemuan dengan masyarakat adat sekitar Hutan Wonosadi di Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, Rabu.

Ia mengatakan, pihaknya mendorong masyarakat untuk membangun hutan rakyat, karena hutan rakyat mendukung perekonomian masyarakat yang ada di sekitar kawasan hutan.

"Kami berterimakasih atas usaha yang telah dilakukan masyarakat adat Hutan Wonosadi Gunungkidul, sehingga bisa mengembalikan fungsi hutan Wonosadi setelah mengalami kerusakan parah pada era tahun 60-an, sikap itu yang mesti dicontoh masyarakat adat hutan rakyat di seluruh Indonesia," katanya.

Menurut dia, keberadaan Hutan Wonosadi juga mampu mendongkrak perekonomian warga sekitar karena mereka memanfaatkan hasil hutan untuk produk kerajinan, tempat wisata maupuan areal penelitian flora dan fauna.

"Dengan pengembangan hutan rakyat yang benar, maka hutan diharapkan akan memberikan kontribusi langsung terhadap perekonomian warga di sekitar kawasan hutan," katanya.

Menurutnya, melestarikan hutan dengan pendekatan kearifan lokal, kultur dan budaya masyarakat sekitar hutan, diyakini kelestarian hutan akan dapat terjaga.

"Perjuangan untuk menjaga kelestarian Hutan Wonosadi dan hutan di Gunungkidul tidak boleh berhenti hanya mendapat berbagai penghargaan, masyarakat dan pemerintah harus terus berupaya untuk melestarikan keberadaan hutan ini," katanya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Suharto mengatakan, masyarakat di sekitar kawasan hutan rakyat telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) Ijin Pengelolaan Hutan Tanaman Rakyat (IPHTR) dan diharapkan bisa dimanfaatkan untuk mendukung perekonomian warga setempat.

"Hutan rakyat di Gunungkidul saat ini berjumlah 30 ribu hektare, sedangkan target yang dicanangkan Pemkab Gunungkidul hingga akhir 2010 memiliki 50 ribu hektare hutan rakyat, atau setara dengan 30 persen luas wilayah Gunungkidul," katanya..

Ia mengatakan, saat ini baru wilayah utara dan tengah Gunungkidul yang memiliki hutan tanaman rakyat, untuk itu pemkab akan mengembangkan wilayah timur dan selatan menjadi hutan rakyat untuk melengkapi jumlah hutan rakyat yang ada.(*)


Sumber: ANTARA News (Rabu, 24 Juni 2009 18:38 WIB)

Capres/cawapres Dinilai Tidak Punya Konsep Lingkungan

(ANTARA/Andika Wahyu)

Ambon (ANTARA News)
- Pengamat lingkungan dari Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon DR. Abraham Tulalessy, M.Si, menilai tiga pasangan Capres/Cawapres tidak memiliki konsep nyata untuk menangani berbagai persoalan lingkungan di tanah air.

"Tidak ada strategi dan program kerja khusus untuk menangani masalah lingkungan. Ini tergambar dalam visi dan misi mereka," ujarnya di Ambon, Rabu.

Tulalessy, yang juga dosen Fakultas Perikanan Unpatti, berpendapat, ketiga pasangan Capres/Cawapres seharusnya juga memasukkan program khusus untuk menangani dan memproteksi masalah lingkungan di berbagai daerah, mengingat masalah ini menjadi salah satu dari delapan poin penting Milenium Development Goals (MDGs) yang disepakati negara-negara di dunia.

Ketiga pasangan Capres/Cawapres, katanya, lebih banyak mengangkat tema perbaikkan ekonomi dan mengabaikan masalah penanganan lingkungan yang masih terus terjadi di Tanah Air.

"Contoh yang ada di depan mata yakni kasus lumpur Lapindo hingga saat ini belum bisa diselesaikan. Seharusnya ada sanksi hukum yang tegas terhadap investor asing dan swasta nasional yang menangani proyek tersebut, karena dampaknya terjadi kerusakan lingkungan secara global dan ribuan masyarakat kehilangan tempat tinggal, serta proses ganti ruginya pun belum tuntas," katanya.

Ia mengingatkan, masalah lingkungan dan pemanasan global menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan Millenium Development Goal?s (MDG?s) atau merupakan deklarasi millennium PBB dan ditandatangani 189 negara termasuk Indonesia pada tahun 2000 lalu,

Isi MDG`s menyoroti delapan tujuan pembangunan yang harus dicapai hingga 2020, yakni pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, melawan HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup, mengembangkan kemitraan global dalam pembangunan, pendidikan untuk semua, penurunan angka kematian anak, dan peningkatan kesehatan ibu.

Tulalessy menyatakan, sah-sah saja ketiga pasangan Capres/Cawapres mengutamakan perbaikan sistem ekonomi bangsa serta mengangkat tema kampanye yang pro rakyat, tetapi hendaknya tidak melupakan proteksi terhadap masalah lingkungan, mengingat eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dapat merusak lingkungan.

Dalam berbagai pertemuan, termasuk debat Capres/Cawapres yang disiarkan berbagai media massa nasional, tidak satu pun kandidat yang menyinggung tentang langkah-langkah dan strategi penanganan masalah lingkungan.

"Tidak ada strategi secara nasional untuk menangani kerusakan lingkungan di Tanah Air, padahal kondisinya saat ini sudah sangat memprihatinkan," ujarnya.(*)


Sumber: ANTARA News (Kamis, 25 Juni 2009 06:08 WIB)

ASEAN Harus Hentikan Batubara untuk Hindari Malapetaka Iklim

Foto/Ist
Beberapa aktivis Greenpeace membentangkan spanduk dengan tulisan “Quit Coal” di lobi Padma Hotel di

BALI, TRIBUN
- Greenpeace hari ini menghimbau kepada negara-negara ASEAN untuk segera mengurangi pembangkit tenaga listrik batubara dan berinvestasi pada energi terbarukan untuk menghindari malapetaka iklim, di akhir pertemuan ASEAN Forum On Coal (AFOC) ke tujuh di Bali. Beberapa aktivis Greenpeace membentangkan spanduk dengan tulisan “Quit Coal” di lobi Padma Hotel di Legian selama acara penutupan.

“ASEAN terus tergantung pada batubara yang membawa kawasan menuju percepatan perubahan iklim dengan dampak seperti kekeringan, banjir dan kelaparan akibat berkurangnya hasil pertanian yang mengancam kehidupan ratusan juta orang. Daripada pertemuan itu membicarakan perluasan penggunaan batubara, ASEAN seharusnya menyepakati rencana untuk keluar dari pemanfaatan batubara dan beralih pada ekonomi yang rendah karbon,” kata Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara dalam rilis yang diterima Tribun, Kamis (25/6).

Laporan terbaru dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dan program lingkungan untuk Asia Tenggara (EEPSEA) mengidentifikasi bahwa Asia Tenggara adalah satu di antara kawasan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. ADB memperkirakan setidaknya kawasan ini akan kehilangan enam atau tujuh persen pendapatan tahunan atas dampak perubahan iklim di akhir abad ini jika tidak ada tindakan untuk mengatasi perubahan iklim. Di samping biaya ekonomi dan iklim dari batubara, Indonesia baru saja memperingatkan adanya biaya kemanusiaan dari bencana di Sawahlunto, Sumatera Barat yang menelan nyawa 31 petambang.

Jika dihitung, emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar fosil ini bisa lebih dari setengah dari seluruh emisi gas rumah kaca Indonesia sekarang dan akan terus meningkat di tahun 2050 jika tidak ada tindakan yang diambil. Negara-negara ASEAN perlu untuk memikirkan kembali strategi mereka untuk memilih cara penggunaan, memproduksi, menyimpan dan mendistribusikan energi yang secara pasti akan menurunkan emisi gas rumah kaca.

Negara-negara anggota ASEAN memiliki banyak sumberdaya energi terbaharui dan harus segera mengembangkannya. Sebagai contoh, Indonesia memiliki cadangan energi geothermal terbesar di dunia dan bisa menyediakan 9,5 gigawatt energi hingga tahun 2025. Namun saat ini kurang dari lima persen sumber panas bumi bangsa ini digunakan. Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia dan ASEAN untuk meningkatkan sasaran pada energi terperbaharui, terutama panas bumi, angin, tenaga surya dan micro-hydro serta mengembangkan produk hukum dan peraturan yang selama ini jadi hambatan terbesar dalam investasi di bidang energi terperbaharui.

Pemerintah Filipina telah membuat undang-undang energi terperbaharui di akhir tahun 2008, yang membawa negara itu pada energi bersih di masa mendatang yang akan membawa keuntungan ekonomi selama negara memotong emisi karbonnya.

“Satu-satunya solusi yang akan menjauhkan kita dari malapetaka iklim dan memberikan kita masa depan hanyalah dengan pemanfaatan yang lebih besar pada energi diperbaharui, mengurangi bertahap penggunaan batubara dan berhenti merencanakan nuklir, digabungkan dengan pelaksanaan program-program efisiensi energi dalam skala besar. Negara-negara ASEAN perlu menunjukkan bahwa kawasan ini serius menangani perubahan iklim, saatnya mengkritisi pembicaraan iklim di Copenhagen, Desember tahun ini,” ujar Fiyanto mengakhiri. (rls)


Sumber: Tribun pekanbaru (Kamis, 25 Juni 2009 12:01 WIB)

TIDAK POTENSI SUNAMI...Gempa 5,2 SR Gelitik Siberut Mentawai

PEKANBARU (RiauInfo) - Gempa mengguncang wilayah kabupaten kepulauan Mentawai provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (25/6/09) ini. Gempa dengan kekuatan 5,2 Skala Richter itu terjadi pada kedalaman 15 kilometer di dasar laut pada pukul 16.15 WIB sore ini.

Kepala BMG Pekanbaru Blucer Dolog Saribu melalui staf analisa Marzuki mengatakan, posisi getaran gempa berada di 1,28 Lintang Selatan dan 98,61 Bujur Timur. Lokasi gempa berada di posisi 27 Kilometer Barat Laut Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Posisi gempa ini juga berada sekitar 97 Kilometer Tenggara, Tanabala Sumatera Utara.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Pekanbaru menyatakan gempa dengan kekuatan 5,2 Skala Richter itu biasanya tidak begitu berdampak pada keadaan suatu wilayah. BMG juga menyatakan gempa ini juga tidak berpotensi menimbulkan Sunami.(Surya)


Sumber: RiauInfo (25 Jun 2009 17:52 wib)

Riau Minta Dukungan Pusat Tanggulangi Kabut Asap


Meski sudah mengerahkan berbagai upaya, namun kabut asap tetap rutin terjadi. Karena itu Riau minta dukungan pusat untuk mencegah dan menanggulanginya.

Riauterkini-PEKANBARU- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan peninjauan langsung untuk mengetahui kondisi kabut asap di Provinsi, Kamis (25/6/09). Laporan mengenai kondisi kabut asap dan langkah-langkah yang telah diambil untuk mencegah dan menanggulangai langsung disampikan Wakil Gubernur Riau Raja Mambang Mit yang juga Ketua Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutla) Riau dalam rapat di ruang kerja Wagubri.

Dari BNPB hadir Deputi I bidang Pencegahan Bencana dan Kesiapsiagaan BNPB Sugeng Tri Utomo. Hadir juga Kadis Kehutanan Riau Zulkifli Yusuf, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau Fadrizal Labay dan sejumlah pejabat intansi terkait lainnya.

Usai melakukan pertemuan tertutup selama lebih dua jam, kepada wartawan, Wagubri menjelaskan, bahwa dalam pertemuan tersebut dicapai sejumlah kesepakatan yang baru bersifat usulan Riau ke pusat.

Usulan pertama berupa memasukan kabut asap di Riau dalam status darurat, sehingga untuk penanggulangannya bisa menggunakan dana on call BNPB. Dana tersebut selalu siap sedia dan memang diperuntukan penanggulangan bencana yang sifatnya darurat. Untuk masuk kategori darurat ada dua kondisi yang harus terpenuhi, pertama sebaran titik api sudah berada pada lebih separo jumlah kabupaten dan kedua, kabut asap telah menyebabkan suhu udara di atas 36 derajat Celsius.

Usulan kedua adalah dukungan peralatan untuk 254 desa di seluruh Riau yang selama ini merupakan kawasan rawat terjadi Karhutla. Dukungan tersebut dalam bentuk peralatan, bisa berupa mobil atau mesin air. “Tetapi ini baru bersifat usulan dan kita harapkan dapat diakomodir,” harap Wagubri.

Menanggapi usulan tersebut, Sugeng mengatakan, pihaknya akan membahas terlebih dahulu sebelum memutuskan. “Ini usulan kita terima, namun belum bisa diputuskan sekarang. Masih perlu pembahasan yang harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran BNPB,” ujarnya.***(mad)


Sumber: Riau Terkini (Kamis, 25 Juni 2009 15:08)

2009-06-27

PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI...Kebakaran Hutan Lahan Riau Muncul Lagi


PEKANBARU (RiauInfo) - Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di 8 daerah Provinsi Riau, Kamis (25/6/09) ini. Berdasar satelit NOAA 18, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melaporkan, sedikitnya 34 titik api menyebar di daerah Riau. Jumlah tersebut naik dibanding nol titik api d daerah Riau kemarin.

Satelit [i]National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18 merekam, titik kebakaran hutan dan lahan masing-masing 5 titik berada di daerah Kabupaten Siak dan Rokan Hilir. Sedangkan Kabupaten Rokan Hulu menjadi korban 6 titik api. Sementara, daerah Kabupaten Pelalawan menjadi korban 4 titik api. Selanjutnya 9 titik api juga menyala di Kabupaten Inhu.

Selanjutnya daerah Kabupaten Kampar dan Bengkalis masing-masing mengalami 2 titik api. Tidak ketinggalan dengan daerah Kabupaten Kuansing dengan dengan 1 titik. Sehingga jumlah kebakaran hutan dan lahan mencapai 34 titik di wilayah Provinsi Riau hari ini.

Kepala BMKG Pekanbaru Blucher Dologsaribu melalui staf analisa Marzuki mengatakan, jumlah titik api bertambah menyusul cuaca cerah dan suhu tinggi juga masih mewarnai Riau sepanjang siang ini. BMKG mencatat temperatur maksimum mencapai 33,6 derjat selcius siang ini. Sehingga perkembangan kebakaran hutan dan lahan perlu diwaspadai.(Surya)


Sumber: RiauInfo (25 Jun 2009 18:13 wib)

Ratusan Desa di Riau Harus Dilengkapi Penanganan Karhutla


PEKANBARU (RiauInfo) - Dari hasil pemantauan yang dilakukan Pemprov Riau, diketahui sebanyak 354 desa di Riau rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Untuk itu sudah sepantasnya desa-desa tersebut diberikan perlengkapan penanganan Karhutla.

Sehubungan hal itu, Pemprov Riau akan mengusulkan kepada pemerintah pusat agar 354 desa yang rawan karhutla itu diberikan perlengkapan penanganan karhutla. "Ini merupakan langhka pecegahan terjadinya karhula," ungkap Wagubri HR Mambang Mit di Pekanbaru.

Dia mengatakan perlengkapan penanganan karhutla itu antara lain mobil tangki air, mesin pompa air dan peralatan lainnya yang diperlukan dalam upaya memadamkan api. "Usulan perlengkapan itu akan kita sampaikan melalui Badan Nasional Penanggulangan Nasional (BNPB).

Mambang Mit mengatakan bencana kebakaran hutan ini telah menimbulkan kabut asap di wilayah Riau. Masalah ini terus terjadi hampir setiap tahun, sehingga perlu dicari jalan keluarnya agar tidak terjadi lagi kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu dia sangat berharap pemerintah pusat mau membantu menyediakan perlengkapan penanganan karhuta di Riau ini. "Kalau perlengkapan ini sudah ada, kebakaran hutan yang lebih luas bisa cepat diatasi," ujarnya.(ad)


Sumber: RiauInfo (26 Jun 2009 11:06 wib)

SMAN 8 Juara Satu Lomba Kebersihan Lingkungan Sekolah


PEKANBARU (RP)-Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 8 Pekanbaru untuk kesekian kalinya meraih prestasi yang membanggakan. Prestasi tersebut adalah juara satu lomba kebersihan lingkungan sekolah tingkat SMA se-Pekanbaru yang diserahkan dalam upacara, di Kantor Wali Kota Pekanbaru, baru-baru ini.

SMAN 8 dinilai memiliki komitmen dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Bukan hanya itu saja, komponen sekolah SMAN 8 secara komprehensif dan bersama-sama untuk mewujudkan kebersihan lingkungan sekolah.

‘’Alhamdulillah untuk kebersihan lingkungan sekolah tingkat SMA se-Pekanbaru, SMAN 8 juara satu. Tentu ini kabar yang membahagiakan. Mudah-mudahan dapat memberikan motivasi untuk lebih mencintai kebersihan lingkungan,’’ ujar Kepala
Sekolah SMAN 8 Pekanbaru Drs H Nurfaisal MPd.

Menurutnya kebersihan lingkungan merupakan prioritas yang sejak sudah diterapkan di SMAN 8. Apalagi kebersihan juga membuat suasana sekolah bisa lebih indah.(mar)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Kamis, 25 Juni 2009 , 07:51:00)

Capres Lupakan Illegal Logging


JAKARTA (RP) - Hingga saat ini, ketiga pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang menyinggung mengenai kejahatan kehutanan (illegal logging). Padahal, sektor kehutanan sangat strategis. Direktur Eksekutif TELAPAK, Moh Yayat Afianto menyatakan, seluruh Capres-Cawapres tampak tidak punya kepedulian terhadap masalah kehutanan.

Ketiga Capres-Cawapres lebih banyak mengusung tema ekonomi. Dia menduga, pengelolaan sektor kehutanan tidak akan banyak mengalami perubahan. Hutan hanya akan dieksploitasi sebagai sumber pendapatan negara untuk mengejar target-target ekonomi.

“Paradigma pengelolaan kehutanan tidak akan berubah, siapa pun presidennya. Ini malapetaka lingkungan. Hutan hanya dikelola untuk mengejar target ekonomi yang tidak berbasis lingkungan,” ujar Moh Yayat Afianto. TELAPAK merupakan LSM yang selama ini konsen ke persoalan kehutanan.

Disebutkan Yayat, sejak era pemerintahan Soeharto, pemerintah sudah terlalu enak mengelola hutan sebagai sumber pendapat negara. Hutan terus-terusan dieksploitasi tanpa peduli kelestariannya. Puncaknya, terjadi illegal logging besar-besaran sejak tahun 1990-an hingga 2000-an.

Eksploitasi hutan dengan berbagai model, antara lain mengkonversinya menjadi area pelabuhan misalnya. Maraknya penambangan di hutan lindung juga akibat negara terlalu mengejar target ekonomi. Selain itu, area hutan terus berkurang karena dialihfungsikan menjadi kawasan perumahan atau industri.

Yang lebih parah lagi, saat ini urusan pencairan dana reboisasi langsung ditangani Departemen Keuangan (Depkeu). Dana reboisasi baru cair kalau ada proposal dari Departemen Kehutanan. Kata Yayat, perubahan ini terjadi karena banyak terjadi penyelewengan dana reboisasi. “Tapi cara mengatasinya tidak dengan mempersulit birokrasi seperti itu,” ucapnya.

Anggota tim sukses pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, Muspani, mengakui, hingga saat ini capres-cawapres tidak ada yang mengusung tema kehutanan.

Para Capres-Cawapres, katanya, lebih banyak bicara dalam tataran makro. Padahal, masalah kehutanan sangat penting. Pencurian kayu Indonesia di perbatasan Kalimantan-Malaysia hingga kini masih berlangsung.

Muspani, yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Lampung itu mengatakan, pihaknya akan mengingatkan Prabowo untuk mengangkat tema kehutanan, khususnya illegal logging, dalam sisa masa kampanye Pilpres 2009 ini. “Saya akan sarankan ke Prabowo agar tegas menyatakan perlunya moratorium penebangan hutan,” ujar Muspani.

Dia lebih memilih untuk menyampaikan saran ke Prabowo, bukan Mega, karena selama ini Prabowo sudah bicara mengenai perlunya penyelamatan kebocoran sumber-sumber kekayaan alam negeri ini. Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja, juga menyayangkan belum adanya pernyataan capres-cawapres mengenai kehutanan. (sam/jpnn)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Kamis, 25 Juni 2009 , 07:54:00)

Musim Kemarau, 254 Desa Rawan Kebakaran


PEKANBARU (RP) -Sebanyak 254 desa di Provinsi Riau dinilai rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Apalagi pada saat musim kemarau.
Untuk itu, Pemprov meminta kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar dapat ikut memperhatikan masalah yang kerap dihadapi Riau dengan memberikan peralatan dan dukungan mobil pemadam kebakaran, pompa air, dan peralatan tangan lainnya untuk memadamkan api.

Pernyataan ini disampaikan Wakil Gubernur Riau (Wagubri) H Raja Mambang Mit kepada Deputi I Bidang Pencegahan Bencana BNPB, Sugeng Tri Utomo, dan Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Riau Zulkifli Yusuf, Kamis (25/6), di ruang rapat Kantor Gubernur Riau (Gubri).

Wagubri menilai, permasalahan Karhutla di Riau sangat memerlukan kerja sama seluruh lapisan masyarakat dalam penanggulangannya. Khususnya perusahaan, diharapkan dapat mengawasi kawasan hutan dan lahan yang menjadi wilayah pengelolaannya.

Wagubri juga menyebutkan, Riau mengusulkan status asap yang terjadi bisa mendapatkan bantuan on call yang ada di BNPB. Namun demikian, lanjut Wagubri, dalam pengusulan tidaklah sembarangan saja. Karena dana on call hanya diberikan untuk kondisi darurat

‘’Mendapatkan dana on call bila terjadi dua permasalahan karena Karhutla. Yang mana, jumlah sebaran titik api melebihi jumlah kabupaten di daerah Riau. Kemudian kabut asap menyebabkan suhu udara menjadi 37 derajat celsius,’’ papar Wagubri.

Menanggapi ini Deputi I Bidang Pencegahan Bencana BNPB, Sugeng Tri Utomo, menjelaskan, dana on call yang dimiliki berkisar diangka Rp50 miliar. Hanya saja, kata Sugeng, dana dipergunakan untuk keadaan darurat saja.(cr1/new)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Jum'at, 26 Juni 2009 , 08:06:00)

Galian C Ancam Abrasi Sungai Batang Kumu

ALAT BERAT: Warga Desa Payung Sekaki Kecamatan Tambusai Utara mengeluhkan alat berat yang mengambil Sirtu di Sungai Batang Kumu, Kamis (25/6/2009). (engki prima putra/riau pos)

TAMBUSAI UTARA (RP)-
Camat Tambusai Utara Tri Ismadi Ssos meminta warga Desa Bangun Jaya yang berseberangan dengan Desa Payung Sekaki di Sungai Batang Kumu, untuk menghentikan pengambilan pasir dan batu (Sirtu) dengan menggunakan alat berat. Karena dapat merusak ekosistem dan terjadinya abrasi.

Menurutnya, warga Payung Sekaki resah melihat aktivitas masyarakat Bangun Jaya yang melakukan pengambilan Sirtu di tengah-tengah Sungai Batang Kumu, padahal mereka tidak mengantongi izin. ‘’Kita sudah perintahkan Kades Bangun Jaya untuk menghentikan masyarakat yang mengambil galian C di tengah-tengah Sungai Batang Kumu. Karena tadi pagi masih ada aktivitas masyarakat di sana,’’ ungkap Camat Tambusai Utara Tri Ismadi kepada Riau Pos, Kamis (25/6), terkait instruksi Wakil Bupati Rohul H Sukiman saat berkunjung ke Desa Payung Sekaki.

Dikatakan Tri, pengambilan Sirtu di Sungai Batang Kumu telah disepakati oleh masyarakat hanya di tepi sungai, bukan di tengah-tengah sungai. Namun, karena masyarakat menggunakan alat berat untuk mengambil Sirtu di tengah-tengah sungai, warga Desa Payung Sekaki merasa keberatan akan terjadinya abrasi.

Karena alur air sungai itu bisa menghantam tebing di daerah Payung Sekaki, sehingga akan berdampak negatif terhadap warga yang bermukiman di tepi sungai tersebut. ‘’Ada sekitar 200 meter areal pengambilan Sirtu oleh masyarakat di Sungai Batang kumu ini. Keberatan masyarakat, sekarang arus sungai semakin deras, karena pengerukan pasir dan kerikil,’’ lanjutnya.

Dikatakan, masyarakat yang mengambil Sirtu di Sungai Batang Kumu, sedang mengurus izin galian C. Bahkan petugas BLH Rohul telah mengecek ke lapangan. Dimana kelayakan dinilai oleh BLH Rohul, apakah dapat merusak ekosistem dan terjadinya pencemaran sungai atau abrasi.(epp)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Jum'at, 26 Juni 2009 , 08:08:00)

Nasibmu Gajah Riau

APA yang terjadi pada gajah-gajah di Riau akhir-akhir ini sungguh membuat hati kita miris. Adalah gajah, hewan yang disebut sebagai hewan raksasa di abad modern ini tidak lagi merasakan hidup nyaman di habitatnya, karena ulah tangan manusia telah menghilangkan kenyamanan hidup para gajah-gajah tersebut.

Beberapa gajah dibunuh dengan cara diracun demi kepentingan untuk diambil gadingnya yang konon harganya sepasangnya dibandrol mencapai lebih Rp75 juta. Sehingga dengan harga yang selangit itu, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab gencar memburu satwa langka ini.

Pembunuhan sadis terhadap gajah-gajah di Riau beberapa waktu lalu menggambarkan seolah-olah manusia tidak lagi memiliki sifat kecintaan dan penyayang terhadap hewan (gajah), betapa buruknya moral manusia dewasa ini.

Dan adapun berita yang kita lihat beberapa waktu lalu di mana gajah menginjak salah seorang warga

hingga tewas dan yang merusak kebun milik masyarakat, apabila kita telaah dengan bijak, maka bukanlah gajah yang salah dan janganlah sekali-kali kita salahkan gajah dalam hal ini, ini semua dikarenakan tangan manusia itu sendiri yang merusak habitat gajah-gajah tersebu. Hal ini telah diterangkan di dalam Alquran. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut dikarenakan ulah tangan manusia itu sendiri...”(QS Ar-Rum:41).

Karena habitat gajah ini merasa terganggu, maka tak salah gajah-gajah tersebut lari ke pemukiman masyarakat. Oleh sebab itu, sebagai warga negara dan masyarakat Riau yang baik hendaklah kita memiliki rasa kecintaan hewan terutama terhadap satwa langka yang dari hari ke hari makin berkurang populasinya. Semoga tidak ada lagi gajah yang menjadi korban keganasan manusia.


M Bilal Erickson, mahasiswa FISIP Unri dan bekerja di Sekolah Darma Yudha Pekanbaru.

Sumber: Harian Pagi Riau Pos
(Rabu, 24 Juni 2009 , 07:31:00)

Tindak Pelaku Pembakar Lahan

PADAMKAN API: Petugas berusaha memadamkan kobaran api yang membakar lahan di Pangakalankerinci, Kabupaten Pelalawan. Kabut asap akibat terbakarnya hutan dan lahan kini terus dialami Riau.(bunyamin/riau pos)
PEKANBARU (RP) - Kabut asap tebal yang kembali menyelimuti Provinsi Riau, menjadi perhatian serius Gubernur Riau HM Rusli Zainal. Bahkan Gubri menginstruksikan kepada seluruh bupati dan wali kota dapat bersikap tegas dalam melakukan pengawasan di lapangan.

Sedangkan bagi perusahaan yang terbukti secara sengaja melakukan pembakaran lahan, Gubri mengingatkan bahwa izin usahanya dapat dicabut. Sebaliknya, masyarakat yang sengaja melakukan pembakaran lahan, juga mesti mendapatkan tindakan sesuai hukum berlaku.

‘’Pembakaran lahan yang dilakukan sengaja atau tidak hendaknya mendapatkanTindak Pelaku Pembakar Lahan pengawasan serius kepala daerah di kabupaten/kota. Cabut izin perusahaan yang secara sengaja melakukan pembakaran lahan,’’ ungkap Gubri kepada wartawan, usai melantik pengurus BNP Riau, di gedung daerah Pekanbaru.

Menurutnya, bila tidak dilakukan penanganan dengan cepat maka akan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat. Untuk itu pengawasan juga harus diperketat disetiap daerah.

‘’Rapat koordinasi penanggulangan asap secara langsung ditindaklanjuti Wakil Gubernur Riau, Pak Mambang Mit. Sebagai Ketua Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan diharapkan bisa melakukan pengawasan di lapangan,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutla) Riau H Raja Mambang Mit menegaskan, pihaknya segera berkoordinasi mengenai permasalahan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini.

‘’Surat edaran kepada seluruh perusahaan dan pemerintah daerah sudah direalisasikan. Sosialisasi juga sudah dilakukan, bila masih membandel yang pasti ditindaklanjuti secara hukum berlaku baik masyarakat maupun perusahaan,’’ ucap Mambang.

Masih Sanggup
Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutla) Riau menilai kabupaten/kota masih sanggup mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi disejumlah daerah di Riau. Pusdalkarhutla meminta seluruh elemen dan kekuatan yang ada dikerahkan untuk melakukan tindakan pemadaman terhadap lahan yang terbakar.

Sekretaris Pusdalkarhutla yang juga Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau Ir Fadrizal Labay kepada Riau Pos mengatakan, sesuai kesepakatan yang dibuat masing-masing daerah diminta bertindak terlebih dahulu dalam memadamkan titik api yang ada, jika daerah tidak sanggup bisa meminta bantuan ke provinsi dalam mengambil tindakan pemadaman.

‘’Sampai saat ini belum ada kabupaten/kota yang meminta bantuan ke provinsi atau ke Pusdalkarhutla untuk melakukan pemadaman titik api, dengan kondisi demikian, kita menilai daerah masih sanggup melakukan tindakan pemadaman,’’ ujarnya.

Menyinggung tentang anggaran pengendalian dan pemadaman titik api yang ada baik di BLH maupun di Pusdalkarhutla, Labay mengatakan anggaran untuk itu tidak tersedia baik di BLH maupun di Pusdalkarhutla, kalau pun tim Pusdalkarhutla bertindak dan turun ke lapangan terlebih dahulu akan mencari bantuan anggaran ke Sekretariat Daerah (Setda).

Terus Terbakar
Dari data yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru, hingga Selasa (23/6), di Provinsi Riau masih terdapat sekitar 35 titik api, dari 95 titik api yang muncul di pulau Sumatera, Jumlah ini terpantau lewat satelit NOAA 18, pukul 13.49 WIB.

Dengan kondisi ini, membuat Riau belum bisa lepas dari kabut asap tebal yang mengakibatkan banyak gangguan, terutama bagi penerbangan pesawat di Bandara SSK II terhadap jarak pandang dan juga bagi kesehatan masyarakat.

Kebakaran hutan dan lahan yang kembali menimbulkan kabut asap, menurut Anggota Komisi C DPRD Riau yang membidangi lingkungan hidup Syafruddin Saan, adalah akibat ketidak tegasan Satker terkait dalam mengambil tindakan.(new/hpz/cr1/gem/izl)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Rabu, 24 Juni 2009 , 08:20:00)

Beruang Resahkan Warga Benteng Hulu

MEMPURA (RP) - Sejak dua hari terakhir, khususnya pada malam hari warga Desa Benteng Hulu Darat ketakutan. Mereka diteror binatang buas jenis beruang yang sering memangsa unggas peliharaan warga. Bahkan warga yang sempat melakukan aksi perlawanan dengan menggunakan senapan angin, menembak seekor beruang berukuran orang dewasa. Namun binatang itu tidak mempan ditembus peluru senapan angin.

Supaya unggas tidak menjadi mangsa, sejumlah warga langsung memasang perangkap, baik dengan menggunakan perangkap besi maupun dengan cara memasang alat setrum. Sehingga tindakan warga ini sangat membahayakan diri mereka sendiri. Warga juga meminta instansi terkait untuk segera mencarikan solusi menangkap binatang buas tersebut.

‘’Sudah dua malam ini beruang seukuran manusia dewasa menyerang ternak masyarakat. Bahkan dalam satu malam beruang itu datang berulang kali ke kandang ayam saya di belakang rumah, karena kita takut ya didiamkan saja,’’ ujar Darwoto, salah seorang warga Desa Benteng Hulu Darat kepada Riau Pos, Senin (22/6) di rumahnya.

Menurutnya, beruang yang memakan ayam peliharaanya terjadi pada malam pekan lalu sekitar pukul 02.00 WIB dan bunyi suara beruang itu memang sangat menakutkan. Binatang itu sempat ditembak dengan senapan angin, tapi pelunya tidak bisa menembus tubuh beruang. Bahkan jika beruang itu memangsa manusia, korbannya tidak akan bisa berbuat banyak. Karena tubuh hewan berwarna hitam ini jarak antar matanya saja lebih dari satu jengkal tangan. Ini artinya binatang itu cukup besar dan sangat menakutkan.

‘’Kita minta ada tindakan nyata dari Dinas Kehutanan untuk menangkap binatang buas. Ya harus ada upaya pengusiran ke dalam hutan dan jangan dibiarkan berkeliaran, sehingga masyarakat tidak ketakutan seperti saat ini,’’ ujarnya.

Apalagi ungkap Darwoto, aksi teror beruang ini sudah terjadi tiga bulan lalu dan sempat memangsa unggas peliharaan warga dan saat ini kembali lagi. Tentu keberadaan hewan ini terancam sehingga hewan buas ini malah mencari makan ke kampung masyarakat.

Sedangkan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Siak Drs H Tetan Effendi yang dikonfirmasi mengatakan, sampai saat ini pihaknya memang belum mendapat laporan secara resmi dari masyarakat. Tapi pihaknya sudah berkoordinasi dengan BKSDA Riau perwakilan Siak untuk melakukan penangkapan, karena hewan ini liar, maka perlu dilakukan pengintaian.(ksm)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Selasa, 23 Juni 2009 , 08:10:00)

Riau Masih Dikepung Asap Titik Api Berkurang

KABUT ASAP: Pelabuhan Dumai mulai diselimuti kabut asap, Senin (22/6/2009) pagi. (m nizar/riau pos)

PEKANBARU (RP) - Hampir seluruh wilayah di Provinsi Riau diselimuti kabut asap beberapa hari terakhir. Meski jumlah titik panas (hot spot) yang terpantau satelit NOAA 18 berkurang, namun kabut asap masih membuat jarak pandang terbatas bahkan sempat mengganggu jadwal sejumlah penerbangan, Senin (22/6).

Pada pemantauan Ahad (21/6), terpantau 110 hotspot di sembilan kabupatan/kota. Tapi jumlah tersebut berkurang pada Senin (26/6) tinggal 45 titik. Tapi, jarak pandang kemarin sempat di bawah 1.000 meter sehingga mengganggu jadwal penerbangan.

Dari 45 titik panas yang ditemukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru melalui alat satelit NOAA 18 kemarin, titik panas tersebut terdapat di Kabupaten Rokan Hilir 1 titik, Rokan Hulu 10 titik, Bengkalis 3 titik, Siak 4 titik, Dumai 1 titik, Kampar 5 titik, Kuantan Singingi 1, Indragiri Hulu 2 titik dan Pelalawan 18 titik.

Menurut staf analisa BMKG, Sanya, timbulnya kabut asap tebal ini, selain ditimbulkan oleh sisa asap kebakaran pada Ahad (21/6), juga karena faktor alam seperti angin timur yang kencang serta mengakibatkan kekeringan dan minimnya curah hujan akhir-akhir ini.

‘’Untuk hari ini, (kemarin, red) titik panas Riau masih tinggi. Ini akibat minimnya curah hujan beberapa hari terakhir ini sehingga menimbulkan kabut asap tebal yang mengganggu lalu lintas,’’ kata Sanya.

Di Kota Pekanbaru, jarak pandang yang di bawah 1 kilometer akibat tebalnya kabut asap sempat menggangu jadwal penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II. ‘’Namun untuk siang hari sudah mulai pulih dan kemba¬li normal,’’ tambahnya.

Airport Duty Manager Angkasa Pura, Ibnu Hasan SE mengatakan, jarak pandang yang hanya 5-1.000 meter penerbangan harus dihentikan. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi kecelakaan yang terjadi. ‘’Jarak pandang normal yang kita lepas penerbangan itu 1.000 meter ke atas. Kalau kurang dari itu kita tidak mau ambil resiko. Pasalnya, sangat rawan hal ini (keselakaan, red) terjadi,’’ jelasnya.

Station Manager RAL, Rudi Beno mengakui, kondisi itu harus membuat penebangan ke Dumai dibatalkan sedangkan penerbangan ke Jakarta ditunda lebih kurang 30 menit. ‘’Untuk ke Dumai karena gelap kami batalkan saja, sementara untuk penerbangan domestik lainnya seperti ke Jakarta harus delay selama 30 menit,’’ ujar Rudi.

Sementara pesawat Pelita Air rute Jakarta-Dumai terpaksa mengalihkan pendarata ke Pekanbaru. Pesawat yang dicarter Pertamina ini sempat berputar-putar di langit Kota Dumai sekitar pukul 10.00 WIB, namun akhirnya batal mendarat di Bandara Pinang Kampai Dumai akibat cuaca yang tidak memungkinkan.

Menurut Kepala Bandara Pinang Kampai Edi Sukiatnedi, kemarin, sebenarnya ada dua pesawat Pelita yang seharusnya mendarat. Penerbangan pertama pukul pukul 09.20 WIB dan satu lagi pada pukul 08.40 WIB. Karena jeleknya jarak pandang, kedua jadwal tersebut terpaksa ditunda di Pekanbaru dan baru mendarat di Pinang Kampai pukul 11.41 WIB dan pukul 12.41 WIB.

Dalam pada itu, Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutla) Riau dalam waktu dekat akan memanggil seluruh kabupaten/kota di Riau guna membahas dan mengambil tindakan nyata dilapangan terkait Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang saat ini terjadi diseluruh di kabupaten/kota.

Sekretaris Pusdalkarhutla yang juga kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau Ir Fadrizal Labay kepada Riau Pos di Pekanbaru, Senin (22/6) mengungkapkan, upaya dan langkah nyata di lapangan harus segera dilakukan, mengingat jumlah titik api yang terpantau dari satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) cukup banyak.

‘’Kita akan panggil seluruh kabupaten/kota untuk menyelesaikan ini semua, ini penting dilakukan agar Karhutla itu tidak terus menerus terjadi dan Riau setiap saat dikepung kabut asap. Apalagi bila melihat data hampir 60 persen Karhutla di Sumatera terjadi di Riau,’’ ujarnya.

2.000 Ha Lahan Terbakar
Kebakaran lahan seluas 2.000 hektare di wilayah Kabupaten Rohil, persisnya di Kepenghuluan Rantaubais, Kecamatan Tanahputih dan sekitarnya, sudah tiga hari belakangan ini terbakar. Mengingat hot spot terus membesar serta meluas tersebut, seluruh ‘kekuatan’ diantaranya berasal dari tim Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Rohil serta Manggala Agni maupun kelompok relawan anti api telah dikerahkan ke Rantaubais untuk melakukan pemadaman.

‘’Setelah di Kecamatan Bangkopusako, sekarang ini hampir seluruh kekuatan yang dimiliki di tim Dalkarhutla Rohil sedang dikonsentrasikan di Rantaubais. Jumlahnya sekitar 40 orang. Alasannya, lantaran lahan yang sedang terbakar di Rantaubais sana dinilai cukup luas,’’kata Kepala Dinas Kehutanan Rohil H Tugiman Marto SH yang ditemui Riau Pos, Senin (22/6) di Bagansiapi-api.

Sementara, Senin (22/6), sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Rohil telah diguyur hujan. Dengan turunnya hujan tersebut, setidaknya telah membuat ketebalan kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Rohil menipis. Hanya saja, daerah yang diguyur hujan tersebut ternyata tidak berlaku di Rantaubais.

Sementara itu, kabut asap juga melanda wilayah Bengkalis akibat terbakarnya hutan dan lahan di desa Sepahat dan Tanjung Leban Kecamatan Bukit Batu, sedikitnya 50 hektare lahan masyarakat yang tidak produktif ludes dimakan api. Ada indikasi kebakaran tersebut disengaja oleh pemilik lahan, karena terjadi di tempat yang sama secara berulang-ulang.

Pantauan pagi Senin (22/6), kondisi kota Bengkalis diselimuti kabut tebal. Kendati asap belum sampai mengganggu aktifitas masyarakat, namun kondisi tersebut jelas bisa mengganggu kesehatan masyarakat.

Kebun Karet Terbakar
Sama dengan daerah lainnya, kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Kampar, dimana puluhan hektare kebun karet masyarakat di Dusun Pantian Rambutan Desa Merangin Kecamatan Bangkinang Barat Kabupaten Kampar hangus dilalap api. Kebakaran yang cukup luas tersebut mengakibatkan kabut asap menyelimuti wilayah Bangkinang dan sekitarnya.

Wakil Bupati Kampar Teguh Sahono SP yang juga Ketua Tim Satuan pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Kampar didampingi Kabid Pemulihan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kampar H Dasril ketika dikonfirmasikan Riau Pos, Senin (22/6) mengatakan bahwa begitu menerima laporan dari masyarakat, tim karhutla langsung turun ke lapangan bersama tim pemadam kebakaran.

Pemadaman sudah dilakukan sejak Ahad malam (21/6), di mana tim pemadam kebakaran bekerja hingga menjelang dinihari dengan prioritas utama melokalisir lokasi kebakaran agar tidak melebar ke lahan yang belum terbakar. Hanya saja, tim pemadam kebakaran mengalami kesulitan di lapangan dengan jarak lahan yang hendak dipadamkan dengan lokasi mobil pemadam mencapai lebih dari 100 meter, sedangkan jangkauan selang mobil pemadam kebakaran tidak memadai bahkan harus disambung berkali-kali.

Tak jauh berbeda dengan Kampar, kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Inhu. Akibatnya kini Inhu mulai diselimuti kabut asap, bahkan kini jarak pandang di beberapa daerah terutama dipagi hari kini sangat terbatas.

Selain di Inhu, kebakaran lahan dan hutan juga terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir. Dari hasil pengamatan yang dilakukan instansi itu memasti¬kan titik api yang muncul itu berada di pedalaman. Kuat dugaan ada sebagian di antara titik api tersebut berada pada hamparan lahan yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh sebab itu, instansi di atas sedang berupaya memastikan titik dimaksud.

Sedangkan kebakaran di Kabupaten Rokan Hulu juga telah membakar hutan dan lahan milik masyarakat dan perusahaan perkebunan.Berdasarkan Pantauan Dari pantauan Satelit NOAA 18 yang diterima Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Rohul, ditemukan tujuh titik api.(cr1/zar/gem/sah/evi/epp/yon/izl)


Sumber: Harian Pagi Riau Pos (Selasa, 23 Juni 2009 , 08:09:00)

2009-06-26

RIAU TERBANYAK KARHUTLA...95 Titik Api Tersebar di Wilayah Sumatera


PEKANBARU (RiauInfo) - Delapan provinsi kembali tercatat menjadi korban kebakaran hutan dan lahan di wilayah Pulau Sumatera, Selasa (23/6/09) ini. Riau masih menjadi provinsi yang terbanyak mengalami kebakaran hutan dan lahan tersebut. Satelit [i]National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18 merekam sedikitnya 35 titik api berada di Riau hari ini.

Selanjutnya Provinsi Sumatera Utara dan Lampung masing-masing mengalami 2 titik kebakaran hutan dan lahan. Provinsi Bangka Bangka Belitung dan Bengkulu masing-masing mempunyai 1 titik api.

Sedangkan Provinsi Sumatera Barat juga menjadi korban kebakran hutan dan lahn sebanyak 9 titik. Selanjutnya Provinsi Sumatera Selatan menjadi korban 21 titik api. Tidak ketinggalan Provinsi Jambi dengan 24 titik. Sehingga jumlah kebakaran hutan dan lahan mencapai 95 titik di wilayah Pulau Sumatera hari ini.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Blucher Dologsaribu, melalui staf analisa Ardhitama mengatakan, sejumlah daerah provinsi masih mengalami kekeringan akibat minimnya peluang hujan di Sumatera. Seperti Riau mengalami cuaca cerah dengan temperatur maksimum 33,4 derjat celsius hari ini. Sehingga peluang kebakaran hutan dan lahan masih akan luas terjadi.(Surya)


Sumber: RiauInfo (23 Jun 2009 17:41 wib)

PELUANG HUJAN MASIH LEMAH...35 Titik Api Tersebar di 8 Daerah

PEKANBARU (RiauInfo) - Meski mulai berkurang, kebakran hutan dan lahan masih menggerogoti sejumlah daerah Provinsi Riau, Selasa (23/6/09) ini. Keadaan itu menyusul masih tipisnya peluang hujan, sementara cuaca cerah dengan temperatur tinggi mencapai 33,4 derjat celsius di Riau. Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18 mencatat sedikitnya 8 daerah Riau menjadi korban kebakran hutan dan lahan hari ini.

Seperti daerah Kabupaten Rokan Hilir terbanyak mengalami kebakran hutan dan lahan dengan 9 titik api. Sementara daerah Kabupaten Rokan Hulu, Siak dan Bengkalis masing-masing menjadi korban kebakran hutan dan lahan sebanyak 6 titik.

Sedangkan Kabupaten Kuantan Singingi juga mengalami 4 titik kebakran hutan dan lahan. Selanjutnya ada 2 titik api menyala di daerah Kabupaten Pelalawan. Tidak ketinggalan Kota Dumai dan daerah Kabupaten Inderagiri Hilir masing-masing dengan 1 titik api. Sehingga jumlah kebakaran hutan dan lahan mencapai 35 titik di wilayah Provinsi Riau hari ini.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Blucher Dologsaribu melalui staf analisa Ardhitama mengatakan, peluang hujan ringan masih ada di daerah pesisir Timur Riau pada sore atau malam nanti. Hujan bersifat lokal itu diprediksi akan turun di daerah pesisir Inhil dan Pelalawan. Dengan masih menipisnya peluang hujan, BMKG menilai masih perlu mencegah dan mewaspadai pertumbuhan titik api di Riau.(Surya)


Sumber: RiauInfo (23 Jun 2009 17:08 wib)

KABUT ASAP MAKIN PARAH_Gubri Perintahkan Instansi Terkait Ambil Tindakan Tegas

PEKANBARU (RiauInfo) - Kabut asap yang melanda sebagian wilayah Riau akhir-akhir initelah sangat menganggu banyak orang. Bahkan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dan Bandara Pinang Kampai Dumai sempat berhenti beroperasi karena jarak pandang terbatas.

Terkait kabut asap itu, Gubernur Riau Rusli Zainal memerintahkan kepada aparat terkait untuk segera mengambil tindakan tegas. "Saya perintahkan instansi terkait untuk segera mengambil tindakan tegas terkait kabut asap ini," ungkap dia.

Gubernur HM Rusli Zainal seusai pelantikan acara Ketua dan Pengurus Badan Narkotika Provinsi (BNP) Riau, Selasa (23/6) langsung menegaskan kepada kepada bupati, walikota, khususnya kepada daerah mereka yang selalu menjadi langganan 'produksi' asap, untuk segera bertindak tegas. Baik itu terhadap pengusaha, maupun masyarakat biasa.

"Saya berharap kepada aparat terkait, jika terbukti ada perusahaan yang benar-benar dengan sengaja membakar lahan, segera tindak termasuk masyarakat yang membakar lahan. Sebab dampak yang diakibatkan bukann hanya sekitar mereka, tetapi masyarakat luas termasuk provinsi tetangga," tegas Rusli.

Selain itu Rusli pun berharap, penanganan serius bukan hanya dilakukan sesaat saja, tetapi bagaimana melakukan pencegahan untuk masa jangka panjang. Sehingga kebakaran lahan benar-benar bisa diatasi dengan serius, harapnya.

"Kita berharap, benar-benar ada tindakana kongkrit dari aparat terkait, mulai pemerintah setempat, kehutanan, kepolisian untuk benar-benar mejalankan fungsi dan perannya dalam menegakkan peraturan," ujar Rusli lagi.(ad)


Sumber: RiauInfo (23 Jun 2009 16:23 wib)

Kabut Asap Terus Selimuti Pekanbaru

foto/doddy vladimir

PEKANBARU, TRIBUN - Kabut asap yang diduga akibat kebakaran lahan dan hutan terus menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, selama sebulan terakhir.

Berdasarkan pantauan di Pekanbaru, Selasa (23/6) kabut asap masih tetap terlihat hingga pukul 12.00 WIB. Kabut mengakibatkan langit seperti mendung namun tidak ada tanda akan turun hujan.

Kabut asap yang berkepanjangan ini juga mulai dikeluhkan warga karena mengganggu kesehatan manusia.

Seorang warga, MQ Rudi, mengatakan dirinya mulai terserang radang tenggorokan dan gangguan pernafasan.

"Kabut asap terus bertahan setiap hari, dan paling parah pada malam dan pagi hari karena udara terasa bau asap dan menyengat di hidung," katanya.

Sementara itu, Manajer Pengamanan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Ibnu Hasan mengatakan kabut asap pada hari ini tidak mengganggu aktivitas penerbangan. Jarak pandang di landas pacu diperkirakan lebih dari 2 kilometer."Kabut asap memang masih terlihat, tapi agak tipis dan belum mengganggu penerbangan," ujarnya.

Berdasarkan pantauan terakhir satelit NOAA 18 dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, sebanyak 45 titik api diduga akibat kebakaran lahan dan hutan yang terpantau di sejumlah wilayah di Provinsi Riau.

Titik api paling banyak ditemukan di Kabupaten Pelalawan yang mencapai 18 titik. Kemudian diikuti di Kabupaten Rokan Hilir mencapai 10 titik api, Kampar (5), Siak (4), Bengkalis (3), Indragiri Hulu (2), serta masing-masing satu titik api di Rokan Hulu, Kuantan Singingi, dan Kota Dumai.

Pada Senin (22/6), kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan sempat mengakibatkan dua bandara di Riau ditutup sementara karena jarak pandang turun hingga di bawah normal.

Otoritas Bandara Pekanbaru terpaksa menghentikan aktivitas penerbangan sekitar 90 menit, sedangkan Bandara Pinang Kampai Dumai terpaksa ditutup hingga sekitar lima jam akibat kabut asap. (ant)


Sumber: Tribun pekanbaru (Selasa, 23 Juni 2009 23:05 WIB)

Rusli Ancam Cabut Izin Perusahaan Pembakar Lahan

PEKANBARU, TRIBUN - Gubernur Riau Rusli Zainal juga mulai gerah dengan makin tebalnya kabut asap. Ia langsung mengintruksikan kepala daerah kabupaten/kota segera melakukan pengawasan di lapangan secara intensif.

Bagi perusahaan yang kedapatan sengaja membakar lahan di atas izin usahanya, maka izin perusahaan tersebut diancam cabut. Sementara bagi warga yang kedapatan melakukan pembakaran lahan, juga diancam proses hukum.

"Pembakaran lahan yang sengaja dilakukan atau tidak, hendaknya mendapat pengawasan serius kepala daerah di kabupaten/kota. Koordinasi juga harus dilakukan mengatasi masalah ini," ujar Rusli, Selasa (23/6).

Menurutnya, bila tidak dilakukan penanganan cepat, akan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat. Untuk itu pengawasan harus diperketat di setiap daerah. Instansi terkait juga diminta segera melakukannya.

"Rapat koordinasi penanggulangan asap langsung ditindaklanjuti Wakil Gubernur Riau. Sebagai Ketua Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, diharapkan bisa melakukan pengawasan di lapangan," tambahnya.

Sementara Ketua Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutla) Riau, HR Mambang Mit, menegaskan pihaknya segera berkoordinasi kasus kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini.

Mambang Mit yang juga Wakil Gubernur Riau menegaskan, pihak yang kedapatan sengaja membakar hutan dan lahan, akan diproses hukum secara tegas, sesuai aturan yang berlaku.

"Surat edaran ke seluruh perusahaan dan pemerintah daerah sudah kita layangkan. Sosialisasi juga sudah dilakukan. Bila masih membandel akan ditindaklanjuti secara hukum. Berlaku bagi masyarakat maupun perusahaan," ujarnya. (ksi)


Sumber: Tribun pekanbaru (Selasa, 23 Juni 2009 20:19 WIB)

Dihut Riau Kirim Tim Pemadam Kebakaran Hutan

PEKANBARU, TRIBUN - Dinas Kehutanan Provinsi Riau menyatakan daerah Rokan Hilir (Rohil), Dumai, dan Bengkalis dalam tingkat waspada tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Penyebaran titik api begitu cepat, sehingga Dinas Kehutanan Riau akan menurunkan 30 personil dan 21 Polisi Kehutanan (Polhut). Mereka ini diberangkatkan Selasa (23/6) sore ke lokasi kebakaran.

Bukan hanya itu mulai Selasa (22/6) Dinas Kehutanan Provinsi Riau bersama Polhut, telah membuat posko penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Posko ini berpusat di Jalan Dahlia, tepatnya di kantor Polhut, dan posko ini bersiaga selama 24 jam.

Keberadaan posko ini untuk terus memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan, serta menerima informasi dari mana saja tentang kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.

"Sebab periode Juni sampai September diperkirakan akan terus panas. Sehingga kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan cukup tinggi," kata Kasi Kebakaran Hutan dan Lahan provinsi Riau, Said Nurjaya, Selasa (23/6).

Said menambahkan, daerah yang dinyatakan siaga dan tergolong rawan kebakaran hutan dan lahan ada di tiga daerah. Seperti Dumai, sampai sekarang sudah hampir 50 hektare lahan yang terbakar.

Sedangkan Rohil sudah mencapai 3.000 hektare terbakar, dan 1.000 hektare di antaranya saat ini api sedang menyala. kemudian Bengkalis, saat ini sudah mencapai 300 hektare terbakar.

Di seluruh lahan yang sedang terbakar itu, sudah disiagakan personil di posko yang telah dibentuk. "Mereka dibantu beberapa tim dari Polhut dan Manggala Agni dari Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam ( BBKSDA) Riau. Semuanya lengkap dengan peralatan masing-masing," tambahnya.

Sementara daerah Siak, Kampar, Rengat, dan Inhu, sudah dapat dikendalikan. Tidak ada lagi api yang membakar hutan dan lahan di daerah tersebut. Namun pascakebakaran muncul persoalan asap.

"Jika asap sekarang banyak sehingga jarak pandang mencapai 100 meter, itu bukan karena persoalan yang bisa kita kendalikan. Asap bisa muncul di mana saja, bukan berarti berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Riau saja," tambahnya.

Said Nurjaya juga ikut turun ke lapangan bersama bersama tim Dishut dan Polhut. Mereka membawa perlengkapan di antaranya 2 unit mobil patroli, baju personil, 60 pasang sepatu, mobil pemadam 5 unit lengkap dengan pompa 4 unit, dan pompa jinjing 10 unit. "Semua peralatan yang dibutuhkan kita bawa," ujar Said. (cr6/cr5)


Sumber: Tribun pekanbaru (Selasa, 23 Juni 2009 20:17 WIB)

Pemutihan Karang Massal Terjadi Lagi di Bali Utara

KOMPAS/LASTI KURNIA
Jejak keberadaan koloni terumbu karang

Laporan wartawan KOMPAS Robertus Benny Dwi K.
DENPASAR, KOMPAS.com — Proses pemutihan karang atau coral bleaching kembali terjadi di kawasan laut utara Pulau Bali. Hal itu merupakan akibat langsung dari tingginya suhu air laut yang tidak normal yang disebabkan oleh pemanasan global. Jika kondisi ini semakin parah akan sangat merugikan nelayan dan pariwisata kawasan itu di waktu-waktu yang akan datang.

Hasil penelitian cepat yang dilakukan Yayasan Reef Check Indonesia, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam advokasi dan penelitian lingkungan bawah laut, di sepanjang 120 kilometer kawasan laut pesisir antara Pemuteran, Kabupaten Buleleng, hingga Amed (Karangasem), antara Mei-Juni ini menunjukkan gejala pemutihan yang sama di sepanjang garis pantai di utara Bali.

"Pemutihan karang keras paling parah di Amed, mencakup sekitar 40-55 persen dari jumlah tutupan karang keras yang ada. Sementara tingkat pemutihan paling rendah ditemukan di Tulamben, yakni sekitar 10 persen dari total tutupan karang keras," kata Naneng Setiasih, Pimpinan Yayasan Reef Check Indonesia di Denpasar, Selasa (23/6).

Kondisi yang beragam ditemui di sejumlah titik penelitian lainnya. Di sekitar Pantai Lovina, salah satu pusat pariwisata di utara Bali, tingkat pemutihan karang mencapai 25-30 persen, Sembiran 20-25 persen, serta Bondalem 30-45 persen. Meratanya pemutihan karang yang terjadi, kata Naneng, adalah salah satu ciri utama pemutihan yang disebabkan oleh pemanasan global.

Hal yang sama juga terjadi pada tahun 1997-1998 silam, yang dampaknya juga terasa di sebagian perairan Indonesia, termasuk Bali. Kala itu, tingkat pemutihan karang di kawasan laut Taman Nasional Bali Barat mencapai 90 persen.

Adapun jenis-jenis karang keras yang ditemukan memutih meliputi Acropora tabulate dan cabangnya, Pocillopora sp, Stylopora, Montipora (submasive and encrusting), Porites, Pavona, Hydnopora, Favites, Galaxea, Fungiid (Fungia, Ctenactis and Sandhalolita), Astreopora, Symphillia, Platygyra, Diploastrea, Heliopora, Lobophylia, Millepora, Goniastrea, dan Pectinia. Sementara jenis nonkarang keras yang terkena adalah karang lunak (Sarchophyton dan Sinularia), Anemon, dan Zooanthid.

Laporan nelayan
Naneng mengungkapkan, penelitian cepat itu dilakukan untuk menanggapi laporan dari para nelayan di Tejakula, Buleleng, sekitar sebulan lalu. Mereka mengeluh adanya gejala pemutihan karang di sepanjang pantai di Tejakula. Setelah mendapatkan laporan itu, timnya segera bergerak ke lapangan. Selain swadaya, mereka juga mendapatkan dukungan dari sejumlah pengelola pariwisata, operator selam, maupun nelayan setempat.

"Hasil penelitian itu memang sengaja kami umumkan cepat-cepat agar segera mendapatkan perhatian dari khalayak. Jangan memberikan tekanan lebih besar pada habitat karang sehingga tingkat pemutihannya tidak semakin parah," kata Naneng.

Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang ini akan mengurangi pelayanan dan jasa yang diberikan terumbu karang kepada manusia. Di Bali, terumbu karang merupakan aset ekonomi yang sangat vital dari sisi perikanan dan atraksi wisata. Sebuah penelitian di Taman Nasional Bali Barat menunjukkan penurunan keinginan membayar dari setiap wisawatan Rp 16.290 untuk setiap kehilangan 10 persen tutupan mahluk hidup. Hal ini berarti secara hipotesis, penurunan tutupan mahluk hidup dari tahun 1996 ke 1998 karena pemutihan karang massal dan hama Acanthaster mengakibatkan kerugian hingga Rp 692 miliar. Berkurangnya tutupan karang keras di atas 10 persen juga dapat mengurangi kelimpahan jenis ikan sampai 62 persen.

Mengutip laporan World Wide Fund tahun 2004 lalu, Naneng mengatakan, kerugian ekonomi dari terdegradasinya the Great Barrier Reef di Australia dalam skenario kenaikan suhu akibat pemanasan global, misalnya telah diestimasi untuk mencapai sedikitnya 2,5-6 miliar dollar AS dalam kurun waktu 19 tahun. Sementara di Asia Tenggara, apabila terjadi pemutihan karang yang sangat parah dalam 50 tahun ke depan, nilai jasa dan produk yang hilang dari perikanan, pariwisata, dan kerusakan keanekaragaman dapat mencapai 38,3 miliar dollar AS.


Sumber: Kompas (Selasa, 23 Juni 2009 17:13 WIB)

Kabut Asap Terus Selimuti Pekanbaru

Pekanbaru (ANTARA News) - Kabut asap yang diduga akibat kebakaran lahan dan hutan terus menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, selama sebulan terakhir.

Berdasarkan pantauan ANTARA News di Pekanbaru, Selasa, kabut asap masih tetap terlihat hingga pukul 12.00 WIB. Kabut mengakibatkan langit seperti mendung namun tidak ada tanda akan turun hujan.

Kabut asap yang berkepanjangan ini juga mulai dikeluhkan warga karena mengganggu kesehatan manusia.

Seorang warga, MQ Rudi, mengatakan dirinya mulai terserang radang tenggorokan dan gangguan pernafasan.

"Kabut asap terus bertahan setiap hari, dan paling parah pada malam dan pagi hari karena udara terasa bau asap dan menyengat di hidung," katanya.

Sementara itu, Manajer Pengamanan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Ibnu Hasan mengatakan kabut asap pada hari ini tidak mengganggu aktivitas penerbangan.

Jarak pandang di landas pacu diperkirakan lebih dari 2 kilometer.

"Kabut asap memang masih terlihat, tapi agak tipis dan belum mengganggu penerbangan," ujarnya.

Berdasarkan pantauan terakhir satelit NOAA 18 dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, sebanyak 45 titik api diduga akibat kebakaran lahan dan hutan yang terpantau di sejumlah wilayah di Provinsi Riau.

Titik api paling banyak ditemukan di Kabupaten Pelalawan yang mencapai 18 titik. Kemudian diikuti di Kabupaten Rokan Hilir mencapai 10 titik api, Kampar (5), Siak (4), Bengkalis (3), Indragiri Hulu (2), serta masing-masing satu titik api di Rokan Hulu, Kuantan Singingi, dan Kota Dumai.

Pada Senin (22/6), kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan sempat mengakibatkan dua bandara di Riau ditutup sementara karena jarak pandang turun hingga di bawah normal.

Otoritas Bandara Pekanbaru terpaksa menghentikan aktivitas penerbangan sekitar 90 menit, sedangkan Bandara Pinang Kampai Dumai terpaksa ditutup hingga sekitar lima jam akibat kabut asap.(*)


Sumber: ANTARA News (Selasa, 23 Juni 2009 15:46 WIB)

Pengotor-pengotor Terbesar Dunia Bertemu di Meksiko

Mexico City (ANTARA News/AFP) - Menteri-menteri lingkungan dari pengotor-pengotor terbesar dunia, termasuk AS dan China, bertemu Senin di Meksiko dalam upaya AS untuk mempercepat kerja ke arah perjanjian iklim penting PBB.

Kelompok yang disebut Forum Ekonomi-ekonomi Besar (MEF) itu bermaksud membantu membuat perjanjian baru untuk mengekang gas rumah kaca guna menggantikan Prokokol Kyoto ketika protokol itu habis berlakunya pada 2012.

Pertemuan ketiga kelompok itu tiba ketika pembicaran iklim di seluruh dunia macet sebelum pertemuan puncak besar Kopenhagen Desember yang ditujukan untuk menghasilkan perjanjian PBB yang baru. Duabelas hari pembicaraan perubahan iklim internasioal itu berakhir pekan lalu di Jerman tanpa kemajuan mengenai masalah terbesar bagaimana membagi beban pengurangan emisi pada masa depan.

Negara-negara miskin mengusahakan pengurangan mendalam dari negara-negara kaya yang menurut sejarah sebagian besar harus dipersalahkan karena masalah sekarang ini.

Mereka kebanyakan minta pengurangan sekitar 25-40 persen pada 2020 dibanding dengan tingkat pengurangan 1990. Beberapa negara, termasuk China, telah mengatakan 40 persen haruslah minimal.

Di negara-negara maju, Uni Eropa telah menawarkan pengurangan sedikitnya 20 persen pada 1990, tapi Jepang dan AS sejauh ini menawarkan pengurangan sekitar delapan dan empat pesen berturut-turut.

MEF diluncurkan oleh Presiden AS Barack Obama di belakang prakarsa yang sama oleh pendahulunya, George W. Bush. Anggota-anggotanya telah bertemu di Washington dan Paris pada April dan Mei. Pesertanya termasuk Australia, Brazil, Inggris, Kanada, China, Republik Ceko, Denmark, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia, Afrika Selatan, Swedia dan AS, dan juga ke 27 negara Uni Eropa.

Wakil-wakil dari Uni Emirat Arab, Norwegia dan Spanyol akan mengambil bagian sebagai pengamat, beberapa pejabat Meksiko mengatakan.

Pembicaraan itu tiba ketika dukungan internasional meningkat pada proposal Meksiko untuk mengumpulkan miliaran dolar untuk memerangi perubahan iklim melalui lembaga yang disebut "Green Fund".

Rencana itu akan mewajibkan semua pemerintah untuk membayar uang kontan berdasar pada formula yang mencerminkan ukuran produk domestik bruto masing-masing negara.(*)


Sumber: ANTARA News (Selasa, 23 Juni 2009 05:07 WIB)

2009-06-25

LIPI Temukan Spesies Baru Anggrek

Pasuruan,(ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengumumkan sebuah spesies baru anggrek, yaitu bunga asal Pulau Flores, NTT, yang diberi nama Dendrobium floresianum.

Peneliti anggrek LIPI Destario Metusala, di Kebon Raya Puwodadi, Jawa Timur, Senin, mengatakan, publikasi nama spesies baru anggrek itu sudah disiarkan The Orchid Review, Inggris, sebuah jurnal tentang anggrek yang dibaca secara luas di kalangan internasional.

Menurut Destario Metusala, penamaan anggrek itu merupakan hasil penelitian dirinya bersama peneliti Singapura O`Byrne selama tiga tahun, yaitu sejak mereka menemukan bunga itu pada 2006.

Bunga yang ditemukan tanpa sengaja itu, menurut dia, memiliki kerabat paling dekat dengan D obrienianum asal Philipina.

Waktu selama tiga tahun itu, kata Destario, diperlukan untuk melakukan berbagai langkah ilmiah, termasuk proses identifikasi agar dipastikan bahwa anggrek itu memang berbeda dari kerabatnya dalam genus yang sama.

Menurut dia, kini saatnya memperkenalkan kepada masyarakat di dalam negeri mengenai spesies baru asal Indonesia tersebut.

"Untuk perbanyakannya mudah dilakukan, karena walau ditemukan di daerah pegunungan, bunga ini beradaptasi pada daerah rendah asal kelembabannya cukup," katanya.

Masa berbunga anggrek itu pada April-Mei, September-Oktober, dan Januari.

Anggrek Dendrobium floresianum menyukai daerah dengan sirkulasi udara yang lancar, dengan kisaran cahaya 50 persen hingga 70 persen.

Disebutkan, layaknya Dendrobium lain, anggrek floresianum sangat rentan terhadap serangan hama.(*)


Sumber: ANTARA News (Senin, 22 Juni 2009 15:28 WIB)

Semburan Lumpur di Serang Bisa Berhenti

Serang (ANTARA News) - Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Surono mengatakan, semburan lumpur di Kampung Astana Agung, Desa Walikukun, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, bisa berhenti sendiri dan tidak seperti lumpur Lapindo, Jawa Timur.

"Saya minta warga tidak panik dengan adanya semburan gas yang mengeluarkan lumpur dan pasir itu," kata Kepala PVMBG Bandung, Surono saat dihubungi, Selasa.

Sebetulnya, semburan gas yang serupa pernah terjadi di Kabupaten Serang pada Tahun 2007 lalu di Kecamatan Walantaka, Cikeusal dan Pontang.

Semburan gas di Kampung Astana Agung, Desa Walikukun, Kecamatan Carenang, memang hasilnya ada beberapa gas yang membahayakan jika diukur langsung di lubang semburan karena ada gas CO2, CO, H2S, SO2 dan CH4.

Akan tetapi, gas itu setelah di udara bebas akan menurunkan konsentrasi dan tidak menimbulkan bahaya bagi kehidupan.

Apalagi, kondisi seperti ini berada di ruang terbuka dan mudah terkena angin dan mudah menguap.

"Saya kira gas itu tidak menjadikan masalah sepanjang konsentrasi tidak tinggi," katanya.

Menurut dia, semburan gas yang mengeluarkan lumpur di Carenang itu bisa berhenti sendiri karena ada Gunung Karang yang mengandung gas S02.

Kemungkinan berasal dari gunung api tipe B itu setelah tahun 1600 sampai sekarang tidak meletus dan magma dalam proses pendinginan gas terbebaskan sehingga terperangkap di bawah permukaan tanah, dangkal, volume kecil, hanya lensa-lensa saja.

Saat dibor gas keluar mendorong apa saja termasuk air dan lumpur.

Selanjutnya, setelah tekanan gas turun akan berhenti dan mengecil sendiri.

"Kami pernah menerima laporan seperti ini dari Pemkab Serang Tahun 2007 lalu," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat tidak panik dan semburan itu tidak akan terjadi seperti Lumpur Sidoarjo.

"Semburan itu hanya berlangsung beberapa hari saja, setelah itu reda lagi," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pertambangan dan Energi, Dinas Pertambangan dan Energi, Banten, Eko Palmadi, mengatakan, saat ini aktivitas semburan stabil dan diperkirakan dua hari mendatang dipastikan berhenti. (*)


Sumber: ANTARA News (Selasa, 23 Juni 2009 16:40 WIB)

Dewi Motik Ajak Generasi Muda Peduli Lingkungan

Dewi Motik berbicara dalam diskusi mengenai pelestarian lingkungan di kawasan Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. (ANTARA News/Guntur)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Aliansi Perempuan Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjutan (Indonesian Women`s Alliance for Sustainable Development), Dr Cri Puspa Dewi Motik Pramono, mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

"Jika kita tidak peduli terhadap lingkungan, tidak tertutup kemungkinan suatu saat Indonesia hanya tinggal sejarah saja, karena alamnya semakin rusak dan akhirnya hilang tenggelam," kata Motik, dalam diskusi bersama ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) di kawasan Kali Pesanggrahan di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu.

Untuk itu, lanjut Motik, memelihara lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu saja, akan tetapi menjadi tugas masyarakat semua dan dapat diawali dari diri sendiri dan dimulai sejak dini.

"Mahasiswa harus dapat memberikan contoh kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya agar mereka turut memelihara lingkungan dari hal yang terkecil, yakni menggunakan air secukupnya dan tidak berlebih-lebihan dan membuang sampah pada tempatnya," kata dia.

Menjawab pertanyaan mahasiswa tentang keterlibatan perusahaan menjaga lingkungan, Motik mengatakan setiap perusahaan harus memiliki izin mengenai analisa dampak lingkungan (Amdal).

Namun, perusahaan juga harus tetap mengedepankan pengelolaan sumberdaya alam yang ramah lingkungan.

"Pembangunan harus berkelanjutan jangan hanya sepotong-potong. Pengusaha harus mempertimbangkan dampak usahanya kepada masyarakat dan harus melakukan corporate social responsibility untuk lingkungan," kata Motik.

Sementara itu, H Chaerudin, tokoh Betawi, yang menjadi pelopor gerakan penghijauan di wilayah sekitar bantaran kali Pesanggrahan, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, mengatakan saat ini pihaknya telah memelihara bantaran sungai yang luasnya sekitar 120 hektare.

Menurut dia, sekitar tahun 1988 bantaran kali Pesanggrahan merupakan tempat pembuangan sampah dan limba rumah tangga dari permukiman di sekitar kali.

Sampah-sampah tersebut dari waktu ke waktu terus menumpuk, dan menimbulkan bau tak sedap dan menjadi sarang bibit penyakit bagi warga yang tinggal di sekitar kali Pesanggrahan.

"Tumpukan sampah itu tidak ada yang peduli, sehingga kami merasa terpanggil untuk menjaga kelestarian kali dengan cara membersihkan kali dari sampah tersebut," kata dia.

Berbagai penghargaan dan hadiah telah ia terima baik dari pemerintah maupun lembaga internasional peduli lingkungan.

Ia mengaku tidak membutuhkan penghargaan atau hadiah dari siapa pun, namun yang ia inginkan adalah menyelamatkan alam.

Dampak dari penyelamatan alam ini orang bisa memetik manfaatnya dan mengurangi kemiskinan, karena banyak dari 120 ha lahan di bantaran kali Pangandaran kini berubah menjadi lahan pertanian yang subur dengan tanaman palawija dan sayur serta buah-buahan.

Dengan kali yang bersih ikan-ikan dapat hidup dan dipancing, pohon-pohon menghasilkan, dapat mendapatkan air bersih dari kobak tanpa harus membayar.

Mengajarkan orang untuk arif dengan mengenal budi dan daya-budaya, sehingga memiliki kehalusan jiwa dan empati terhadap kesulitan orang lain.(*)


Sumber: ANTARA News (Sabtu, 20 Juni 2009 20:13 WIB)

June 2009 KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Advanture

Privacy Policy - KELOMPOK PEDULI ALAM DJEMARI PEKANBARU (Riau) Copyright @ 2011 - Theme by djemari.org